Rabu, 22 Mei 2013

AKU INGIN ANAKKU NANTI…(rencana seorang ani buat anak-anak)


 
AKU INGIN ANAKKU NANTI…

Tadi siang aku dapat bimbingan dari seorang spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi. Yah, itulah asyiknya jadi dokter muda, bisa dapat ilmu dari mana-mana. Kadang, bisa konsultasi gratis pula. Nah, karena aku lagi stase rehab medik banyak deh ilmu rehabilitasi yang aku dapat. Seperti hari ini, bimbingan dimulai dengan mengikuti si dokter ke ruangan buat jawab tiap konsulan yang dia dapat. Kali ini, kami diajak melihat seorang pasien CP (Cerebral Palsy) yaitu suatu gangguan motorik dan postural yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak selama masa prenatal, perinatal, maupun post-natal. Kasian banget deh. Pasien ini tergolong neglected CP atau CP yang terabaikan. Dia dibawa ke RS juga bukan karena CP-nya tapi gara-gara aspirasi berulang. Kata dokter sih, prognosanya buruk secara umurnya udah 15 tahun tapi nggak bisa ngapa-ngapain mana ada aspirasi berulang. Jadi, intinya si pasien ini tinggal tunggu waktu, miris….
Nah, ini dia setelah kunjungan ke ruangan, akhirnya sambil jalan kita diskusi gitu, sumpah nih dokter puinteeeerrrr banget plus buaaaiiikkk banget ! dr.MS,Sp.KFR ini dengan mudahnya menjelaskan materi yang waktu kuliah aku perlu bersemedi untuk memahaminya. Guys, dokter ini lah contoh pintar dan cerdas dijadikan satu. Dia tahu dan yang paling penting dia bisa mentransfer pengetahuannya lewat kemampuan komunikasi yang baik juga. Kita ngebahas beberapa hal termasuk pola tumbuh kembang anak. Ada banyak pelajaran yang aku catet dalem-dalem di otak soal tumbuh kembang anak. Jujur sih, aku emang cukup tertarik ama bidang ini dan tentunya karena aku tipe penghayal sejati aku punya tuh bayangan-bayangan pola pengajaran yang mau aku terapkan ke anak-anakku nanti. Beberapa hal bijakasana dari beliau :
·         Jadi orang tua itu nggak ada akademinya jadi semuanya “Trial and Error”
·   Luangkan waktu untuk anak walaupun cuma 1-2 jam, jangan serahkan pendidikan anak ke pembantu. Kita ingin anak kita tumbuh seperti orang tuanya bukan pembantunya.
·   Untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak, berikan banyak rangsang untuk menstimulasi otaknya. Jangan keseringan bilang “jarang” yang ada anak kita nanti malas belajar dan berkreasi.
Aku setuju berat sama pesan-pesan beliau. Nah, aku jadi makin yakin buat menerapkan harapan dan sedikit obsesi buat anak-anakku nanti. Yah, walaupun otak ku masih anak-anak juga tapi aku udah punya bayangan mau jadi ibu model apa aku ini. Kata pak ustadz, “kalo mau sukses mendidik anak, jangan tunggu ada anaknya dulu. Mulailah jauh sebelumnya. Yang bisa kita lakukan pertama mendidik diri kita dulu dan kedua mencari pasangan yang bisa jadi orang tua yang baik.” Ulalala, karena calon  pasangan aku belum punya kayanya aku mau berbagi cerita tentang apa yang pengen aku lakukan sebagai orang tua nanti dah, mau tahu? Nggak juga nggak pa pa sih, aku tetep bercerita, sembodo tea ada yang mau baca, kekeke…

1.      Ngasih nama belakang, Well, karena dikeluargaku nggak ada tradisi nama belakang yang sama satu keluarga, aku jadi ingin memulainya. Aku pengen ntar nama belakang ayahnya anak-anak ditempelkan di belakang nama mereka. Jadi entar kalo mereka ke luar negeri misalnya buat sekolah atau kerja mereka punya “last name” gitu, kayanya keren aja…kesannya elit, bro n sist, ya nggak?

2.      Pendidikan rohani sejak dini. Mungkin aku punya segudang rencana buat mendidik di bidang akademi tapi yang  nggak boleh terlewat itu rohani. Kata ibuku “Buat apa pinter kalo nggak ngerti sholat ama ngaji?”. Pada poin ini aku nyadar 100% secara rohani atau agama aku masih parah payahnya. Jadi kayanya nasihat pak ustadz tentang nyari calon pendamping yang baik mesti aku terapkan. Standarku sih cuma standar 3 B (kaya miss universe aja) yaitu BERIMAN, BERILMU, dan BERPENAMPILAN BAIK. Kalo orang itu beriman dia tahu kewajibannya sebagai pimpinan dalam rumah tangga baik dari sisi materiil maupun spiritual. Insya Allah, dengan ilmunya dia bisa melaksanakannya. Dan masalah penampilan, yah setidaknya untuk memperbaiki keturunan aku lah.Nggak mesti ganteng minimal mirip Choi Siwon lah, gkgkgkgk, becanda…yang penting rapi, wangi, nyenengi, hehehe…Tapi nggak berarti semuanya soal rohani diserahkan ke suami, aku juga mesti belajar memperbaiki diri. Bundanya mesti bisa ngasih contoh yang baik dan jadi pembimbing yang baik, titik!


3.      Mengembangkan kemampuan berbahasa mereka to the max ! Aku pernah denger, kemampuan berbahasa anak mencapai maksimal pada umur 3 tahun. Jadi, aku ini orang yang percaya “Kemampuan komunikasi itu asset yang berharga”. Aku pribadi udah merasakan betapa banyaknya kesempatan yang aku dapet dari kemampuan berkomunikasi yang baik. Dulu, aku sempet susah berkomunikasi dan kemampuan public speaking aku payah beutzzz…masa-masa itu aku alami karena aku tipe anak pendiam dan minder. Tapi semuanya berubah sejak SMP waktu ikut lomba pidato. Dari acara itu aku mulai belajar jadi pembicara yang baik, bisa membuat orang mau mendengarkan dan mau mengerti. Public Speaking Skill itu penting, saudara-saudara sekalian. Rencananya ntar anak-anakku bakal aku didik supaya mampu berbicara dengan baik dan benar, meyakinkan, dan nggak malu-maluin. Jadi dari kecil, si anak mesti diajarkan PD. Mungkin latihan-latihan kecil seperti menceritakan kembali harinya di sekolah, atau menceritakan dongeng yang dia dengar sebelum tidur (dalam kasus ini kayanya ayahnya deh yang mesti dongengin, secara aku mudah ngantuk, yang ada anakku masih melek, aku udah teler) akan menjadi metode latihan yang baik. Aku ngerasain banget, waktu kecil, ortu-ku itu nggak terlalu ngajarin public speaking secara keduanya juga bukan tipikal Podium people, jadi aku mau ntar cucu-cucunya mereka nggak kaya aku. Selain itu satu aspek lagi yang penting dalam komunikasi adalah bahasa. Untuk yang satu ini, aku punya obsesi tersembunyi. Aku pengen banget mendidik anak-anakku dalam multilingual environment maksudnya mereka diajarkan terbiasa dengan berbagai macam bahasa sejak kecil (tapi bukan bahasa sandi ataupun bahasa kalbu juga sih). Rencananya bahasa Indonesia bakal jadi bahasa pertama mereka, jadi kalau di sekolah atau pas lagi main mereka bicara pake bahasa Indonesia gitu. Tapi kalo mereka bicara ke Mom and Daddy nya mereka mesti pake bahasa Inggris, well at least 70 % dari percakapan lah. Itu berarti aku mesti cari suami yang pinter bahasa Inggris, dong? Okelah, laksanakan! Bukan bermaksud gaya-gayaan atau sombong sih. Ini didasarkan fakta bahwa sekarang bahasa Inggris itu udah kaya bahasa kedua di negeri ini. Terlebih lagi hampir semua alat elektronik, gadget, bahkan literatur ditulis dalam bahasa Inggris. Kalo nunggu anak-anak diajarkan bahasa ini di sekolah bakalan telat banget. Pengalaman aku, di sekolah kita cuma diajarkan grammar  tapi prakteknya juarang, cak! Nah, jangan sampe anak aku kaya eyang kakungnya, ngerti bahasa Inggris kalo berbentuk tulisan tapi kalo aktif payah asli. Selain itu mereka juga bakal aku ajarin bahasa internasional lain selain Inggris, rencananya sih pengen aku ajarin bahasa korea sedikit-sedikit. Bahasa ketiga mereka ini aku maunya bahasa asia gitu. Pilihannya antara korea (belajar ama bundanya aja, biar hemat), mandarin, atau jepang. Perkembangan ekonomi asia kan lagi bagus. Siapa tahu mereka memerlukannya ketika mereka masuk ke dunia kerja. Terus bahasa keempat itu bahasa eropa,mau belanda, jerman, spanyol, atau perancis sekalipun silahkan mereka pilih. Kalo masalah bahasa keempat ini sih, kalo mereka gede aja silahkan pilih,hehehe soalnya bundanya juga nggak ada yang ngerti dari semua bahasa itu. Nah, baru deh bahasa kelima mereka itu bahasa daerah bunda sama ayahnya. Kalo ntar bunda sama ayahnya dari daerah yang sama bisa deh sekalian ngajarin berdua. Tapi kalo beda, yang utama mereka mesti belajar bahasa bundanya yaitu Jawa (egois ya aku, hehehe). Terdengar beribet sih, tapi kembali kata-kata dr.MS,SpKFR terngiang “bicara itu adalah hasil dari proses mendengar, memahami, dan mengulangi serta di dalamnya ada factor kebiasaan.” So, aku cukup membuat mereka TERBIASA. Masalah kebiasaan, pas aku bilang rencanaku ini ke ibu dan ayahku, ibuku langsung bilang, “halah, kakean (kebanyakan), pokoknya kalo anakmu nanti ibu yang nge-mong (baby-sitting), ibu jadikan medok semua.” Ampun, jangan dong ! ntar anakku kaya bule nyasar gitu, ngomongnya bahasa Inggris logatnya jawa, OH NO ! . Ngajarin banyak bahasa gini harus bertahap biar anak-anak nggak kecampur aduk bahasanya. Kita pastinya nggak mau anak kita bicara bribet kaya artis “mana ujan, becek, nggak ada ojek.” Ya kan? So, mesti bijaksana juga sih, okeeee….

4.      Mendampingi perkembangan akademik
Aku inget banget waktu jaman SD sampai SMP tiap malam kalo ngerjain PR pasti ada ayah yang jadi mentor. Mulai dari kasih tahu cara ngerjaiinya, meriksa jawaban, sampai mengajarkan metode cepatnya. Pas SMA ayah nggak bisa jadi mentor lagi karena selain ayah kerja di luar kota, ayah juga dulu lulusan STM jadi kurang connect ama pelajaran SMA. Tapi tetep aku menghargai sangat semua usaha beliau. Aku juga pengen jadi kaya ayah. Sesibuk-sibuknya diriku nanti setelah jadi dokter aku mau banget ada di samping anak-anak mengajarkan membaca, menulis, berhitung, bahkan menggambar. Memang jaman sekarang banyak kursus, yah kalo anaknya mau ikut kursus, ayu dah dikirim kesana tapi tetep balik ke rumah mesti bunda ama ayahnya yang ngawasin, hitung-hitung ayah ama bundanya review lagi. Bukannya sombong sih, bundanya masih bisa kok diandalkan kalo Cuma matematika, fisika, ama biologi,hehehe….sisanya, silahkan ayahnya yang puter otak kalo perlu ampe diperes, kekeke ! Jadi yang ntar jadi anakku siap-siap belajar seumur hidup…

5.      Mengembangkan potensi diri
Kalo anak punya bakat jangan ditahan hanya karena kita berpikir itu tidak berguna. Banyak kasusnya pas anak menunjukkan kelebihannya dan meluangkan waktu untuk hobinya, orang tuanya justru marah-marah karena menganggap hal itu kurang berguna. Aku juga dulu pernah suka banget ama photoshop dan ibuku marah-marah kalo aku lagi bereksperimen ngedit foto, katanya kaya kurang kerjaan aja. Sekarang ketrampilan itu banyak membantuku, mulai dari organisasi, ngedit foto pribadi atau keluarga, sampai dikomersilkan. Aku percaya belajar apapun baik kebaikan ataupun kejahatan itu nggak pernah sia-sia. Orang belajar nge-hack yang katanya kerjaan jahat. Tapi kalo nggak ada hacker nggak ada pencipta anti-virus,kan? Nggak ada yang bantu KPK nyadap data-data para koruptor, ya nggak? Tinggal bagaimana sebagai orang tua kita mengarahkan ketertarikan anak-anak ke arah yang baik. Selain itu mereka juga perlu diajarkan tentang prioritas. Bagaimana menempatkan kesenangan di bawah kewajiban.

Oke, sebenarnya pengen banget cerita banyak tentang metode yang mau aku coba ke anak-anakku entar. Tapi ya, mending kalian liat hasil bersihnya aja ntar, kalo misalnya suatu hari ketemu aku aman anak-anakku,oke? Kalo dulu temenku pernah nulis prosposal hidup buat dirinya, aku anggap ini proposal hidupku buat anak-anakku. Anak itu selain titipan juga investasi, jadi kalo mau untung kita mesti banyak berkorban, setuju? Mudah-mudahan semua poin di atas bisa aku kerjakan nanti. Yang penting itu luangkan tenaga dan waktumu demi anak-anakmu untuk membuktikan betapa besar cintamu. Semangat para calon bunda, kita pasti bisa !

 -I'm a doctor wanna be-

 -I'm a 'bunda' wanna be-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar