Selasa, 29 Januari 2013

Rerez eonni and Lita eonni VS me...

Hulaaaa....balik lagi dengan cerita gue (bukan aku lagi, udah kota sekarang), tentang orang-orang di sekitar gue...

Kali ini ceritanya tentang dua orang eonni gue (eonni=kakak perempuan) yang sebenarnya adalah seonsaengnim gue alias guru di PUSKO. kalo di luar kelas gue lebih suka panggil eonni, secara umurnya nggak jauh beda gitu (malahan keliatan tua-an gue, errr).

 (Sebelah kiri Lita eonni, sebelah kanan Rerez eonni)

Kedua wanita anggun ini sebenarnya adalah guru bahasa lulusan FKIP UNLAM. Rerez eonni sebenarnya guru bahasa Inggris, terus Lita eonni sebenernya guru bahasa Indonesia. Eh, malah pada jadi guru bahasa Korea? wow, fantastic baby....

Gue banyak belajar dari dua makhluk ini. Kadang-kadang dalam diam (dan ngantuk yang mendalam), gue suka perhatiin mereka. Eits, jangan berpikiran buruk dulu ya, gue 100% normal, kok. Gue suka mikir kok bisa ya mereka sefeminim itu. Dalam hidup gue entah berapa kali gue dicela, ditegur, dikatain, dan lain-lain sebagai cewek jadi-jadian. Gimana enggak, nih gue kasih tahu beda gue ama Reres dan Lita eonni yang diakui sebagai wanita feminim :
  1. Rerez eonni kalo ngomong tuh, nadanya lembut dengan volume kecil. Gue? jangan tanya deh. Kalian pernah ke pasar kagak? pernah denger ibu-ibu pedagang yang teriak-teriak antar kios? Nah, volume gue kayak gitu dah. Soal intonasi? ada yang bilang cara gue ngomong kayak orang ngajak berantem. Busyet, dah.....
  2. Rerez eonni kalo ketawa bunyinya "hihihi", Lita eonni agak lebaran dikit buka suaranya jadinya "hahaha", Gue? mangap lebar nggak tahu keadaan, "BWUAHAHAHAHHUAAAA".
  3. Gue nggak tahu ini bawaan mereka sebagai guru atau nggak?. Tapi gue salut ama mereka yang sabar banget hidupnya dalam mengajar. Murid di PUSKO itu ada puluhan dan mereka termasuk gue suka banget yang namanya nanya, Mikirnya belakangan, bro yang penting nanya dulu. Dan mereka dengan telaten menjawab semuanya bahkan mau mengulang kalo ada yang nggak ngerti. Kalo gue ya, yang namanya ngajar itu 0 besar, dah. Kalian tahu kenapa? karena gue nggak SABARAN. oke, ada yang nanya, pertama kali gue jelasin dengan senyum. Dia nggak ngerti gue ulangi lagi dengan muka datar. Ketiga kalinya, tuh orang masih nggak ngerti, gue ngejalasin lagi dengan taring dan tanduk yang mengancam !
  4. Kalo menunjukkan kegembiraan, Rerez eonni bakal teriak kecil "yeeyy,hehehe" (misalnya waktu foto enhyuk-IU beredar #pletak, dilempar spidol ama rerez eonni). Kalo Lita eonni bakal tepuk tangan dan bilang "asyik". Kalian mau tahu, reaksi gue ? lompat dari kursi, mengepal tangan sambil berteriak "HOREEEEEEEE,."Kadang suara cowok gue yang keluar.
Dengan semua kesemerawutan itu tak ayal kadang status gue sebagai perempuan dipertanyakan. Tapi nih, sedikit rahasia aja, sebenarnya setelah melewati tes psikologis didapatkan hasil bahwa terjadi ketidak sesuaian gender dan identitas seksual diri gue. Identitas seksual gue perempuan tapi gender gue maskulin, nah Lo? kayanya gue mulai berpaling dari Yesung oppa dan mulai melirik Yoona, hahaha, becanda ....

Kenapa gue membahas ini semua? kenapa gue membandingkan diri gue yang kacau balau ini dengan kedua eonni gue?

Sebenarnya ide yang pengen gue bahas disini adalah persepsi bagaimana seorang wanita harusnya bersikap. Coba perhatikan apa kata orang-orang tua yang liat anak perempuan naik motor gede, coba perhatikan apa kata para pria melihat wanita dengan celana jeans tambah kaos oblong tanpa riasan, dan  dengarkan apa kata nenek kalian soal perempuan pecinta alam yang hobinya naik gunug.

Gue nggak bakal bahas soal agama, karena itu bisa memberikan persepsi yang berbeda-beda pada kita. Tulisan ini 100% pemikiran gue. Lo setuju silahkan, nggak setuju sak karepmu!
Gue pribadi nggak setuju kalo wanita itu wajib feminin. Come on, feminin itu cuma batasan yang diciptakan oleh sekelompok orang menurut pemikiran mereka berdasarkan nilai-nilai yang mereka pegang. Sebagai perempuan gue lebih meyakini bahwa kita memiliki kebebasan bertindak sesuai nilai yang kita anut secara pribadi. Mau itu nilai agama, mau itu nilai budaya, asal jangan nilai rapor aja. Gue lebih menghargai perempuan yang tampilannya kaya preman tapi hatinya baik daripada yang penampilannya kaya bidadari tapi hatinyanya busuk. Kalian mau contoh nyata? gue lebih menghargai perempuan yang jadi kernet bis di terminal, yang dandanannya kaya tukang ojek tapi dia bekerja buat keluarganya dibandingkan model cantik yang sukanya godain suami orang supaya dibeliin mobil, rumah, ama perhiasan.

Mungkin lo anggap pikiran gue absurd, ngelantur, atau apapun. Gue cuma nggak suka sama penilaian buruk yang orang kasih pada perempuan yang nggak bisa bergaya priyai. Sama halnya gue paling nggak percaya ada cowok bilang, "aku suka yang natural saja." Yack, bohong banget. Padahal kalo dideketi dua cewek, yang nomor 1 cuma pake bedak bayi ke kampus, yang nomor 2 hobi ke salon, tuh cowok bakal milih perempuan yang mukanya penuh tembelan kosmetik alias perempuan nomor 2. Gue juga nggak mengejek atau nggak suka sama mereka yang tergolong feminin, itu bagus kok. Kalian udah memenuhi takdir sebagai wanita. Tapi bukan berarti semua wanita yang udah terlanjur cablak, heboh, dan "rada kemas-masan" mesti maksain diri jadi feminin juga. Kita (karena gue juga termasuk wanita tidak feminin) cukup memperbaiki kualitas kita. Tunjukkan kalau kita bisa anggun dengan cara berbeda. Lakukan apa yang kita bisa. Berikan manfaat sebanyak-banyaknya pada orang sekitar, bukan dimanfaatkan. Selama apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain, agama, atau pun negara, jangan pernah takut untuk menjadi diri kita sendiri, girls. You are what you think, not what people want you to be.

Oke, itu doang yang bisa gue sampaikan soal pikiran gue. Sebenarnya gue mau cerita banyak banget sama dua sosok yang jadi inspirasi gue buat nulis entry ini. Tapi takutnya, gue malah ngelantur dan membuka aib keduanya, huahaha. Pada dasarnya gue berterima kasih banget ama kedua eonni gue yang udah ngasih banyak pelajaran ke gue. Terutama pelajaran sabar, kepedulian, sama kemuslimahan. Gue belajar sabar dengan merhatiin mereka mengajar, gimana mereka mau mendengarkan, dan tidak langsung menyalahkan. Beda banget ama gue yang maunya ngomong terus. Gue maunya didengerin. dan semakin dewasa (plus semakin tua), gue nyadar bahwa bermonolog itu tidak menyenangkan. Lo mesti bisa legowo mendengarkan orang lain, supaya lo bisa kasih feedback, bukan nyerocos sendiri. Gue belajar untuk peduli juga dari mereka. Mereka sering bilang "aduh, aku nggak enak sama si A kalo aku melakukan ini." Berbeda banget ama gue yang suka mau menangnya sendiri, perduli amat ama perasaan orang. Dan yang terakhir gue kaya dapet mentoring kemuslimahan dari mereka terutama tentang menjaga aurat. Bayangkan, salah satu dari mereka nyebur ke kolam renang aja lengkap dengan kerudung, sesuatu yang nggak pernah gue lakukan. Jeonun manhi baewosseo, eonnideul. Terima kasih banget udah ngasih begitu banyak pelajaran, eonni, SARANGHAE, EONNIDEUL....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar