Selasa, 29 Januari 2013

Miss No Ri, uri seonsaengnim...

It's been a long time I didn't visit my own blog...
Ada banyak banget hal yang harus ku kerjakan akhir-akhir ini, makanya blog ini nyaris tercampakkan. Berhubung sekarang saya sudah menyelesaikan KTI dan bangsanya, dan telah resmi menjadi seorang SARJANA KEDOKTERAN (sombong), maka untuk menanti masa-masa penuh perjuangan sebagai seorang dokter muda, aku putuskan untuk kembali mengencani blog ini. 

Sebenarnya aku adalah tipe manusia pengamat. Aku gemar sekali mengamati makhluk-makhluk di sekitarku, terutama teman dan kenalan. Aku selalu berusaha memahami mereka dan mencari nilai-nilai filosofis dari tingkah laku mereka.Karenanya khusus kategori ini , kalian akan menemukan banyak cerita tentang orang yang berbeda. Aku ingin mengenalkan teman-temanku melalui blog ini. Siapa tahu nanti kalian bisa bertemu mereka, kan? Bagi yang merasa aku libatkan dalam tulisan-tulisanku yang akan datang, please....mohon keikhlasannya. Aku usahakan menulis hal yang baik tentang kalian (jika tidak, kita selesaikan dengan cara jantan...), hahaha...

Oke, ceritanya sebagai seorang K-POPer sejati, aku bergabung di salah satu Pusat Studi Korea (PUSKO) yang ada di Indonesia, yaitu PUSKO UNLAM milik Universitas Lambung Mangkurat. Tujuannya, biar ngerti apa yang para oppa ganteng nyanyikan selama  ini, bukan sekedar "Annyeonghaseyo" atau "Gamsahamnida". Di PUSKO sudah ada beberapa guru dari UNLAM sendiri. Dulu memang ada native speaker yang mengajar tapi waktu kontrak beliau habis, PUSKO kehilangan narasumber hidup. Setelah beberapa lama akhirnya dikirimkanlah pengajar asli negeri Super Junior (bukan negeri Ginseng lagi...) yang bernama SEO EUN HEE seonsaengnim (seonsaengnim=guru). Nah, pada entry kali ini aku ingin menceritakan sosok guru impor langsung dari Korea Selatan ini yang baru beberapa bulan aku kenal. 

Waktu pertama kami melihat Eun Hee saem, hampir seluruh siswa yang terlibat acara penyambutan terpana. Beliau masuk ruangan dengan senyum malu-malunya (mungkin bingung kenapa yang nyambut pada pasang muka cengo semua). Aku pribadi punya dua 2 kalimat yang muter-muter dalam kepala :
1. "Nih orang, pramugari ya?" didasarkan pada fakta beliau tampil dengan celana panjang, blezer, scarf terikat di leher, badan ramping, dll....
2. "Nih, mbak-mbak, kakaknya Eunhyuk Suju bukan?" didasarkan pada fakta bahwa wajah plus gummy smile-nya yang mirip Myeolchi oppa. belakangan, aku tahu kalau hampir semua siswa di situ berpikiran sama, termasuk Reres eonni yang notaband-nya penggila Kunyuk (maksudnya Eunhyuk).











 
Pertanyaan-pertanyaanku akhirnya terjawab setelah beliau memperkenalkan diri secara resmi, termasuk nama Indonesianya yaitu SALMA. Katanya sih , karena Eun Hee saem (saem=seonsaengnim) suka ama Happy Salma. Ulalala, syukur saem nggak milih nama Syahrini, JuPe, atau DePe, bisa ngakak satu PUSKO. Info paling penting, Eun Hee saem nggak punya hubungan sama Eunhyuk lebih dari saudara setanah air.

Sedikit hal yang bisa aku tahu tentang saem pada kunjungan beliau yang pertama ini, salah satunya latar belakang pendidikan beliau yang S1-nya manajemen dan S2-nya seni. Pikiran ku cuma "nyambungnya dari mana tuh?". Saem sudah ke banyak negara mulai Kanada, Meksiko, sampai India. WHAT??? banyak amat, aku aja paling jauh cuma ke Bandung.Haduh, makin menggebu semangat buat keliling dunia.

Sekarang saem udah resmi jadi warga Banjarmasin, dan buahahahaha...banyak kelucuan dari saem satu ini :
1. Selalu ketuker antara "pertama" dan "permata".
2. Saem ke koperasi tapi koperasinya tutup, dan tahu saem bilang apa? "Saya ingin MENJUAL snack, tapi tutup". Krikkk,,,baru tahu saem dagang di koperasi. Oh,ternyata yang dimaksud saem "Saya ingin MEMBELI snack, tapi tutup."
3. Saem dengan PeDe mengatakan "sekarang sedang hujan SALAD di Korea". Jeddeerrr, Salad? enak dong, hidup di Korea. Ternyata saudara-saudara maksudnya adalah SALJU.

Okelah, segala kelucuan itu cuma kendala bahasa saja. Saem sendiri sudah sangat rajin belajar bahasa Indonesia. Selamat berjuang ya Saem!!!!!

Sebenarnya yang pengen aku bahas bukan cuma siapa dan bagaimana Saem. Aku ingin membahas tentang kekaguman dan perhargaan pada keputusan yang saem pilih untuk datang ke Indonesia terutama ke Banjarmasin. Aku menghargai bagaimana beliau mau belajar budaya dan bahasa kita? beliau menunjukkan kekaguman pada budaya Indonesia. Ah, rasanya bagai ditimpuk sandal. Orang asing saja mau peduli dengan budaya bangsa ini, tapi mengapa kita termasuk aku lebih memilih budaya lain. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali mengatakan AKU CINTA INDONESIA. Tiap hari malah teriak-teriak SUJU SARANGHAE....Andaikan ibu pertiwi itu berwujud manusia, beliau pasti udah teriak-teriak pake speaker "Dasar anak durhaka, Ku kutuk kau kau jadi YOONA." Aduh, dikutuk pun aku milih jadi artis korea. Tapi ada pepatah jawa kuno yang berkata "Show your love with action". Nah, ini yang aku pegang erat. Aku mungkin suka pake nama korea kim hani, tapi tetep di akte aku pertahankan nama Ani Rahmawati (emang bisa diganti?), walau aku belajar bahasa Korea tapi tetep di ijazahku yang kecantum nilai bahasa indonesia (maksa banget), walau aku suka bulgogi tapi aku selalu jajan gorengan (mampunya beli itu, cuy...), yang terakhir walaupun aku suka Yesung oppa tapi tetep aku cintanya sama cowok Indonesia (soalnya Yesung oppa nggak mau ama gue, hahahaha). 

Aku suka sebel sendiri kalau di acara TV pejabat-pejabat tua suka bilang "Anak muda sekarang rasa nasionalismenya amat kurang." Rasanya pengen gue lempar laptop ke orang-orang tua sok suci itu. Kalian liat donk, bendera Indonesia berkibar di ajang internasional karena anak-anak SMA yang menang lomba Fisika, lagu Indonesia bergema di forum dunia karena mahasiswa yang menang lomba bikin robot, orang-orang tahu Indonesia gara-gara murid sekolah yang menag paduan suara internasional. Nah, kalian cuma perut ama korupsi yang digede-in. Giliran anak muda bikin tawuran atau teriak-teriak nonton konser SuJu mulai deh komentar nyebelin. Padahal, sorry to say, banyak kok pelaku tawuran yang ternyata anak pejabat. Ini sih, bapak pejabat, anak penjahat. Aku yakin, nasionalisme bukan berarti memaksakan diri membela dan mempertahankan hal yang tidak berkualitas. Aku ngefans SuJu, bukan berarti aku nggak cinta produk dalam negeri. Aku cuma nggak mau maksain dengerin suara parau boyband karbitan Indonesia. Tapi toh, aku belajar mati-matian karena ingin menyumbang sedikit kebisaan pada Indonesia. Jadi, guys, bangga bukan berarti memaksa, titik.

Lanjut ke soal Eun Hee saem, aku kagum sama kedisiplinan beliau menjaga hidup sehat. Beliau ber-yoga ria setiap hari, bung! Nah, aku? olahraga seminggu sekali juga syukur. Beliau menjaga ketat dietnya dengan sayur-sayuran, aku? makan semua, peduli amat paman gorengan belum mandi 3 hari. Malunya, kalo dipikir ulang. Aku orang kesehatan tapi hidup sembarangan. Aku tahu kanker, hepatitis, tifoid selalu setia mengancam, tapi apa aku peduli? hehehe, pentol goreng terlalu enak untuk diabaikan, guys. Kalian tahu hasilnya? mukaku tua sebelum waktunya ! nah, kontras sama Eun Hee saem yang masih terlihat seperti mahasiswa, tenyata sudah melewati kepala 3. Argggghhhh....tidak bisa dibiarkan, mulai sekarang aku  mau hidup sehat (ngomongnya sambil neguk Soft Drink plus ngemil chiki-chikian).

Terlepas bahwa Eun Hee saem lebih dewasa, aku salut sama keberanian beliau datang dan tinggal di tempat yang benar-benar baru. Korea-Indonesia itu jauhnya bukan becandaan, loh. Aku sendiri kepisah kabupaten sama Ortu aja udah sering parno. Gimana kalo sakit? siapa yang nungguin? kalo kehabisan duit?. Ditambah fakta beliau ditempatkan di daerah yang aku yakin beda 180% sama tempat asalnya. Dari negara dengan koneksi tercepat di dunia ke salah satu daerah dengan ketersediaan sinyal komunikasi terpayah. Aku jadi berpikir, beliau rela menjalani semuanya demi misi negara? aku? sanggup kah melakukannya? Gimana kalo interensif ntar aku dikirim ke papua? gimana kalo PTT ntar aku dikirim ke nusa tenggara? Emak, aku bisa gilaaaaa...(kayanya di atas tadi aku nulis soal aku belajar untuk negara, bukan? Ah, sudah lupakan). Tapi aku yakin selalu ada hasil baik dari niat baik. Kalo pun aku akan dikirim ke desa kecil untuk mengabdi, hasilnya akan bermanfaat bagi semua orang, Dan juga, aku berharap, jangan lama-lama dah ditugaskan di desa terpencil. Aku wes ndeso, engko malah tambah ndesooooo....

Mungkin poin terakhir yang bisa aku bahas dari beliau adalah Kebal terhadap galau. Setahuku beliau masih single, tapi nggak pernah menggalau. Nah, gue 21 tahun and jomblo, galaunya tiap hari, boy. Padahal kalau dianalisis, status beliau justru memberi beliau banyak kesempatan untuk berbuat lebih bagi dirinya. Beliau bisa bebas berkeliling dunia. Belajar banyak hal yang berbeda. Kadang dibalik kesepian ada keramaian. Di bawah krim luar rainbow cake yang putih polos ternyata ada banyak warna berbeda yang cantik. Mungkin kita sendiri, tanpa kekasih atau suami. Tapi kita punya teman, keluarga, dan kolega. Kita bisa berhenti galau hanya jika kita mau melakukannya. Tidak ada kata sendiri jika kita mau berbaur. Hari ini tidak akan berulang, jadi nikmati dengan senyuman, bukan kegalauan.


Selebihnya kami banyak menikmati moment menyenangkan dengan Eun Hee saem. Mulai jalan-jalan, shopping, berenang, sampai perayaan ulang tahun Reres eonni.  Kami belajar lebih tentang budaya korea dari Eun Hee saem (di ceritakan di entry selanjutnya ya). Pokoknya, Neomu gamsadeurimnida Eun hee seonsaengnim.....


3 komentar:

  1. Gimana cara nya buat daftar d pusko ka?? Klo bukan mahasiswa unlam bsa??

    BalasHapus
  2. Gimana cara nya buat daftar d pusko ka?? Klo bukan mahasiswa unlam bsa??

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus