Jumat, 14 September 2012

TERAPI MENUNGGU MATI


TERAPI MENUNGGU MATI

Hari ini adalah hari lain lagi yang ku habiskan dengan menunggu pasien asma di poliklinik paru. Bosan, lelah, dan syukur menjadi satu ku rasakan. Bosan karena setiap hari harus mendekam di poliklinik dengan status tak jelas. Lelah harus bicara panjang lebar tiap mewawancarai pasien. Namun ada rasa bersyukur karena dapat kesempatan belajar secara tidak langsung disini. Melihat bagaimana runtutan kerja dokter muda yang kebagian jaga poli paru mulai dari memanggil pasien, anamnesis, mengukur berat badan dan tekanan darah, hingga mendampingi pasien saat diperiksa dokter spesialis. Kadang aku pun ikut merasakan ketegangan kakak-kakak senior ketika di”nasehati” sang dokter, kebingungan saat ditanya keadaan pasien yang ada di bangsal dengan jumlah yang tak bisa dibilang sedikit, dan ketakutan menghadapi ujian. Sungguh rumit rupanya hidup dokter muda. Wah, aku tak yakin siap menjalani takdir seperti senior-seniorku ini. Sempat terpikir seandainya aku dulu mengambil jurusan lain mungkin saat teman-temanku tengah menjalani nasib sebagai dokter muda, aku sedang duduk mendengarkan materi trainning di belahan Indonesia bahkan belahan dunia yang lain. Yah, katakanlah aku ke-PD-an tapi aku yakin bisa jadi karyawan cukup berprestasi jika menjadi orang kantoran dengan kemampuanku yang ada.
Satu hal lagi yang ku syukuri atas keadaanku sebagai peneliti ini. Aku mendapatkan kuliah tentang hidup yang sebenarnya dari pasien-pasien yang aku temui. Tentang bakti pada orang tua, cinta tak bersyarat pada suami yang positif TBC, ketegaran anak muda menghadapi kanker paru, bahkan kesetian pacar menemani sang pujaan hati yang didiagnosa suspect massa di paru. Tak jarang aku pun harus berperan aktif “menghibur” pasien-pasien ini yang mengira aku dokter karena jas lab yang ku pakai, mengira aku perawat karena bertengger di meja depan, atau staff administrasi karena sibuk membantu ibu Meta dan Sena meng-entry diagnosa pasien ke komputer poli. Lucu sekali rasanya saat merenungkan sikap sok tahuku menjelaskan tentang penyakit yang belum sempat didengar pasien dari dokter langsung atau sikap sok bijaksana dalam memberi motivasi berobat terutama pada pasien rujukan dari poli geriatri padahal aku sendiri sering bertingkah “gila” jika sedang stress. Itulah dokter dan calon dokter, harus pandai bersandiwara. Aku jadi ingat salah satu kalimat dalam novel Nothing Forever karya Sidney Shaldon. Salah satu prinsip yang dipengang oleh tokoh Pagie Taylor selaku residen bedah “Bersikaplah tenang walau kau gugup. Jangan pernah tampakkan wajah tegang karena kau akan membuat pasien berpikir mereka akan mati karena penyakit yang tak kau beritahu pada mereka.” Benar-benar kalimat yang menarik.
Bicara tentang kematian dan bakti pada orang tua, aku mendapat pelajaran berharga hari ini. Seorang pria lanjut usia keluar dari bilik periksa bersama sepasang pria dan wanita yang jika ku tebak adalah anak dan menantunya. Si kakek tampak lemah di atas kursi roda yang didorong pria yang ku pikir anaknya tadi. Baju koko berwarna cream dan celana panjang hitam serta tak lupa kopiah putih yang menutupi rambut putih meratanya membuat ia tampak seperti pak haji yang biasa lewat depan kos hendak ke masjid. Pria yang mendorongnya berkulit legam dengan kaos dan celana kain dan topi yang warnanya sudah agak kusam. Sementara wanita di sebelahnya mengenakan setelan baju muslim dan kerudung yang menurut mataku tidak matching warnanya. Riasannya pun hampir tak ketara. Si wanita tampak membawa kresek putih yang di dalamnya tampak amplop cokelat besar yang kukenali sebagi hasil foto rontgen. Kalau aku boleh menebak mereka sepertinya berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah-kebawah. Sejak aku jadi mahasiswi kedokteran sepertinya secara tidak sadar instingku sedikit terasah untuk menilai orang.
Bu, ini diandak lagi disini kah? (Bu, ini ditaruh disini lagikah?)” si pria pengantar kakek bertanya pada bu Sena dengan bahasa banjarnya.
Inggih, pak ai, dicap dulu lah. (Iya, pak, dicap dulu)” sahut bu Sena sembari mengambil status pasien dan lembaran jaminan serta resep yang beliau terima.
Karena penasaran aku pun mendekat ke bu Sena setelah sebelumnya melempar senyum manis kepada si kakek yang membalasnya dengan senyuman ikhlas. Kira-kira apa diagnosa untuk kakek ini? Apa COPD (Chronic Obstruction Pulmonary Disease) ? atau jangan-jangan TBC ? Ku ambil status beliau, ternyata si kakek sudah berumur 70 tahun, lumayan lama ya hidup beliau. Mataku tertuju pada cap yang menunjukkan tanggal hari ini untuk melihat diagnosa yang baru diberikan dokter. Mataku terbelalak, aku langsung menengok ke si kakek yang tampak tenang di kursi rodanya. Ca Paru stadium IV, itulah yang tertera di statusnya. Hanya satu yang terlintas di benakku, sebentar lagi, sebentar lagi beliau wafat.
Aku lantas mencuri pandang pada resep yang sedang dibubuhi cap poli oleh ibu Sena. Hanya ada dua macam obat yang tertulis. Pertama obat penahan sakit dan yang kedua adalah vitamin disertai denga keterangan dalam kurung (terapi paliatif). Terapi paliatif, terapi menunggu mati. Itulah definisi yang ku pahami dari istilah ini. Terapi yang diberikan pada pasien yang tak punya harapan untuk sembuh secara medis. Tujuannya untuk mengurangi rasa sakit sebelum ajal benar-benar menjemput. Aku ingat kata-kata seorang dosen yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam, “Jika kita tidak bisa menyembuhkan penyakit pasien dan membuatnya bertahan hidup, setidaknya kita bisa mengusahakan untuk membuatnya meninggal dengan tersenyum, tanpa rasa sakit.”
Ini resepnya kawa diambil di apotek parak poli bedah, pak. Nah, nang ini pian legalisir lagi di JAMKESMAS. Ini jawaban rujukan pian. (Ini resepnya bisa diambil di apotek dekat poli bedah, pak. Nah, yang ini anda legalisir lagi di JAMKESMAS. Ini jawaban rujukan anda).” Bu Sena lantas menyerahkan resep, jawaban rujukan, dan jaminan yang harus dilegalisir. Si bapak menerima dengan senyum tipis di bibirnya.
Makasih lah, bu. (makasih ya, bu)” sahutnya singkat.
Inggih, sama-sama (iya, sama-sama).”
Si bapak kembali memegang gagang pendorong kursi roda kakek.
Meambil obat kah kita? (Mau mengambil obat kah kita?)” si kakek tiba-tiba bertanya.
Inggih bah, ai. Meambil di apotek. (Iya, pak. Mengambilnya di apotek).” Kali ini si ibu yang menjawab.
Oh, Alhamdullilah kadak sesak lagi abah. Mudahan ampih nah, garing. (Oh, Alhamdullilah bapak jadi nggak sesak lagi. Mudah-mudahan berhenti sakitnya).” Sahut si kakek. Ingin rasanya aku mengatakan pada kakek bahwa penyakitnya tak akan sembuh. Tapi yang ada, aku bisa-bisa diomeli oleh keluarga pasien. Berat ternyata menjadi orang yang tahu tapi tak kuasa mengatakan yang sejujurnya.
Amin, mudahan lakas sembuh lah, kai. (Amin, semoga cepat sembuh ya, kek).” Entah karena iba atau refleks saja aku langsung menjawab doa si kakek. Aduh, kek, andai saja kakek tahu.
Makasih lah, ding, sudah di doakan. (Makasih, ya, dek, sudah di doakan).” Kakek tadi kembali tersenyum kepadaku. “Permisi lah, makasih banyak (Permisi, ya, terima kasih banyak).”
Kakek, si bapak, dan si ibu tersenyum padaku dan bu Sena. Mereka lantas keluar dari poli. Aku hanya bisa menghela napas memikirkan kakek yang percaya bahwa ia akan mendapatkan obat untuk sembuh walaupun sebenarnya itu hanya obat untuk menanti, menanti mati.
“Pasien ASKES kah, bu?” aku bertanya pada bu Sena.
“Lain, pasien JAMKESMAS.”  bu Sena kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi tertunda, mengisi lembaran-lembaran yang tampaknya laporan poli.
“Kasian, ya, Ra.” kataku pada Athira, rekan senasibku. Dia dan aku punya kerjaan yang sama beberapa bulan ini yaitu menanti pasien untuk jadi subjek penelitian. Bedanya aku mengharapkan pasien asma sementara dia berdoa akan datangnya pasien COPD. Malang nian nasib dua mahasiswa asal Tanah Bumbu ini.
“Kenapa, memangnya?” Athira memang sedari tadi sibuk membaca proposal KTI 1 miliknya. Berusaha mendapatkan ilham tentang banyaknya pasien yang divonis tidak bisa jadi subjek penelitian oleh pembimbing kami.
“Kakek tadi tuh yang didorong kursi roda. Dia kena Ca paru stadium IV. Mana kayanya kurang mampu.”
“Tahu darimana dia nggak mampu?” tanya Athira.
“Dia berobat pakai JAMKESMAS. Biasanya kan yang jadi peserta JAMKESMAS itu nggak mampu. Heh, malang bener nasibnya. Sudah tua, penyakitnya parah pula.”
“Yah, mau gimana lagi. Takdir Illahi sudah ditentukan.”
Percakapan kami terhenti disini. Kembali mengerjakan tugas masing-masing. Membantu bu Sena dan Meta memasukkan data pasien sambil sesekali bercanda. Mengamati orang yang lalu lalang yang tak jarang diselingi sebuah bed yang didorong dari IGD dengan pasien beragam bentuk di atasnya. Rumah sakit, disinilah tempat belajar untuk memahami hidup dan mati.
Malam ini sambil mendengarkan lagu dari laptop kesayangan dan membaca novel, aku kembali memikirkan kakek tadi. Bagaimana ekspresi leganya saat berpikir bahwa penyakitnya bisa diobati. Aku membayangkan perasaan anak-anaknya yang setia mengantarnya berobat. Kemungkinan besar mereka tidak menjelaskan penyakit sebenarnya pada si kakek melihat tanggapan si kakek tadi. Aku juga membayangkan bagaimana perasaan dokter ketika menjelaskan vonis itu dan mengabarkan deadline hidup si kakek. Memang hidup-mati, jodoh, dan rezeki Tuhan lah yang mengatur. Tapi sebagai calon dokter, sedikit banyak aku memahami konsep kanker. Stadium IV menunjukkan adanya penyebaran atau metastasis sel kanker ke organ lain. Pada tahap ini kesempatan bertahan hidup pasien sangat kecil. Tingkat keberhasilan bertahan untuk 5 tahun ke depan sangat rendah sekalipun pasien mendapat kemoterapi. Jika di luar negeri mungkin presentasinya akan lebih tinggi. Tapi di negeri ku ini, jangan terlalu berharap.
Mati, sesuatu yang amat ditakuti oleh banyak orang. Begitu resah rasanya memikirkan ajal yang bisa datang kapan saja. Banyak pertanyaan terlontar di benak tiap orang saat memikirkan mati. Apakah aku siap? Apakah amalku cukup? Apakah yang akan terjadi pada anak-istriku? Siapa yang nanti merawat suami atau istriku? Apakah sempat aku melunasi hutang dan cicilanku? Apakah aku sempat menjadi sarjana? Ah, jika ada yang rajin menghitung mungkin pertanyaan sekitar mati bisa menembus 3 digit angka.
Jika kita menjadi ketakutan atas apa yang tidak pasti datangnya apakah kita bisa jadi lebih tenang jika mengetahui jadwalnya? Mungkinkah almarhumah eyang putriku akan menelpon ayah dan meminta kami semua menemuinya di Banyuwangi jika ia tahu ia akan wafat setelah pulang dari syukuran tetangga akibat krisis hipertensi yang menyebabkan perdarahan di otak? Atau mungkinkah eyang kakungku akan meminta cucunya yang satu ini untuk menemaninya kalau almarhum tahu beliau akan wafat hari itu. Eyang-eyangku sayang, aku pasti jadi dokter seperti doa kalian, amin.
Guru ngajiku pernah mengajak merenung, mana yang lebih baik tahu kapan mati atau tidak tahu? Aku berpikir sejenak, ku rasa jawabannya adalah tidak tahu. Kenapa? Karena dengan tidak tahu jadwal tapi yakin akan kepastiaanya tentunya orang akan berhati-hati. Mempersiapkan diri sebisanya supaya tidak menyesal setelahnya. Sementara jika kita sudah tahu jadwal ajal menjemput hanya ada 2 kemungkinan : pertama, menjadi paranoid sendiri dan hanya beribadah hingga melupakan urusan dunia atau kedua, menjadi terlalu efektif memanfaatkan sisa umur untuk bersenang-senang menghabiskan sisa umur. Mengutip salah satu iklan di TV “faktor resiko memang diturunkan tapi manisnya hidup kita yang tentukan.”
Kita memang diturunkan ke bumi dengan resiko dimatikan kapan saja tapi indahnya hidup dengan keberkahanNya itu tergantung usaha kita. Aku bukan orang alim, bahkan ibadah ku kadang terlalaikan. Tapi aku sungguh tak bisa menerima gagasan untuk 100% memisahkan agama dan hidup. Karena kita hidup tentunya karena kita diciptakan dan pencipta kita kenal melalui agama.
Aku bisa memahami keputusan untuk memberi si kakek terapi paliatif saja. Usia beliau sudah sangat tua dan kondisi ekonomi keluarga yang mungkin tidak mampu untuk membawanya berobat lebih lanjut. Namun aku salut pada anak-anak beliau yang menunjukkan baktinya dengan membawa beliau berobat yang mungkin hanya untuk membuat si kakek merasa disayangi melalui usaha anak-anak beliau untuk mengobatkannya. Rasa berdosa langsung menghujamku. Mengingat betapa sering aku mengecewakan orang tuaku. Kadang aku bahkan tak menjawab telpon ibu saat suntuk dengan laporan. Padahal beliau hendak memberi kabar bahwa lagi-lagi beliau kena serangan asma. Kadang dengan cueknya aku menjawab telpon ayah dan menjawab pertanyaan pria baik hati ini dengan ketus karena rasa ngantuk. Padahal beliau cuma ingin menanyakan tentang sakit pinggangnya akibat kerja berat di tambang demi hidup dan sekolahku. Aku mengetik ini dengan tetesan air mata. Air mata bersalah. Ayah, ibu, maafkan aku....
Kembali pada cerita si kakek, aku bukannya bermaksud kejam tapi mengingat usia dan keadaan beliau sepertinya satu-satunya yang bisa beliau lakukan adalah berdoa. Tapi bagaimana jika hal ini terjadi pada anak-anak atau orang yang lebih muda? Mereka yang akhirnya tak terselamatkan akibat ketidakadaan biaya? Mati sia-sia menurutku. Negeri ini memang hebat, saat pejabatnya menikmati rumah, mobil, dan perjalanan mewah, di saat yang sama seorang pemuda dikafani akibat kanker darah yang membunuhnya. Lagi-lagi pemuda itu terlambat berobat karena tak ada uang. Di saat para pejabat itu tengah makan siang mewah setelah rapat yang lagi-lagi dengan uang negara, di dataran lain di pulau jawa, seorang balita wafat akibat busung lapar seperti yang aku kutip dari pengalaman dr.Abdul Mughni Rozy dalam buku Blue Surgeon. Aku sadar cuma bisa mengkritik, toh, kalau tiba-tiba diangkat jadi presiden mendadak pun aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berdoa, semoga ada pemimpin yang jatuh dari langit dan dilahirkan di negeri ku ini untuk memimpin kami menyelesaikan semua petaka ini.
Terlepas dari semua perenungan hidup dan mati serta kesenjangan ekonomi, aku tetap bersyukur atas hidupku. Saat ini aku masih bisa berbagi pemikiran disaat ada remaja yang bahkan untuk bergerak saja tidak bisa. Aku punya keluarga lengkap dan bahagia. Aku masih bisa menikmati penampilan Super Junior di laptop ku. Sesuatu yang tidak penting tapi menunjukkan betapa sempurna fungsi indera yang Tuhan anugerahkan yakni pendengaran, penglihatan, dan perasaan. Dengan kesempurnaan ini tentunya Tuhan ingin aku melakukan sesuatu. Tak bijak rasanya menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku ingin jadi orang yang bermanfaat bukan dimanfaatkan. Sekarang yang ku bisa hanya belajar dan mempersiapkan diri agar kelak bisa jadi tenaga profesional yang menjalani hidup bahagia dan mungkin membantu orang lain untuk memperpanjang kebahagiaan dan hidup mereka. Teringat salah satu judul lagu Super Junior “It’s U” bagiku maknanya adalah “It’s you who decide the way you live.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar