Jumat, 14 September 2012

ASTHMA ET CAUSA CINTA


ASTHMA ET CAUSA CINTA

“Ini ada pasien asma satu, nih.” Seru ibu Meta. Ibu perawat yang satu ini tak pernah lupa mengingatkanku jika ada pasien yang didiagnosa penyakit asma sedang mengembalikan statusnya setelah menjalani pemeriksaan. Senang hatiku rasanya mendapatkan tambahan subjek penelitian lagi. Status sebagai mahasiswi FK yang tengah dituntut mengerjakan KTI, mau tak mau membuatku mendekam di Poliklinik Paru RSUD ini.
“Iya bu, yang mana pasiennya?” tanyaku sumringah.
“Itu tuh ibu yang pakai kacamata, orangnya tinggi.” Sahut bu Meta sambil menunjuk wanita yang dimaksud sedang duduk di bangku pasien menunggu resep obat yang harus dicap sana-sini untuk melegalkannya sebagai resep bagi pemegang ASKES.
Dengan tenang ku datangi ibu yang bersangkutan setelah memeriksa nama dan riwayat penyakit beliau di lembaran status. Sekedar memastikan beliau tidak pernah mengalami TBC atau penyakit lain yang mengganggu paru selain asma. Betapa senangnya aku setelah memastikan si ibu masuk kriteria inklusiku.
“Maaf, bu. Permisi, perkenalkan saya Ani. Saya mahasiswi kedokteran yang sedang melakukan penelitian tentang asma. Kebetulan saya lihat di rekam medik ibu, ibu didiagnosa menderita asma. Ibu bersedia tidak menjadi responden saya. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal tentang asma ibu, dan juga mengukur tinggi badan ibu, boleh?” aku bertanya denga sesopan mungkin pada si ibu.
“Oh, boleh aja, mbak.” Dia menjawab disertai senyum ramah.
“Oh, kalau begitu mari, bu ikut saya untuk mengukur tinggi badan.”
Si ibu pun akhirnya menjalani pengukuran tinggi badan olehku dan sedikit tanya jawab untuk mengisi kuisioner ACT (Asthma Control Test) untuk mengetahui keadaan asmanya. Hasilnya, asma beliau terkontrol sebagian, artinya masih ada kemungkinan cukup besar untuk serangan mendadak.
Sejenak mataku memperhatikan ibu ini. Tinggi beliau yang mencapai 158 cm ditambah sandalnya ber-heel-nya membuat si ibu terlihat cukup tinggi. Tubuhnya bisa dibilang kurus. Rambut sebahu bergelombang dibiarkan terurai. Ditambah kacamata berbingkai cokelat tipis yang beliau pakai, si ibu tampak anggun dan berwibawa.
Aku ingat saat menanyakan salah satu poin kuisionerku, “Ibu, asmanya sering kambuh?”
Dengan diiringi senyum tipis beliau menjawab “Nggak terlalu, mbak. Soalnya saya rutin pakai obat harian dari dokternya.”
“Memangnya ibu sudah lama ya kena asma?”
“Sebenarnya mbak, saya kena asma dari SMA. Saya ingat betul nggak enaknya kalau lagi kambuh. Ditengah-tengah pelajaran saya tahu-tahu sesak napas. Bener-bener kaya orang mau mati.” katanya sambil menatap jauh melewatiku, seolah-olah mengingat masa lalu.
“Tapi, setelah melahirkan anak pertama, asma saya hilang begitu aja, mbak. Sangking senengnya mungkin. Punya anak sehat, punya suami yang baik. Mukjizat sekali rasanya asma saya bisa hilang begitu saja selama 27 tahun. Nggak perlu takut kambuh malam-malam.”
Tanpa sadar aku ikut tersenyum melihat si ibu bercerita panjang lebar tentang asmanya yang hilang secara ajaib. Hebat sekali rupanya kekuatan kebahagiaan itu. Andaikan semua orang bahagia, bisa jadi poliklinik paru akan sepi dari pasien asma. Semoga hal ini terwujud, tapi setelah KTI ku selesai agar aku bisa dapat banyak responden. Kadang-kadang kita mesti egois jika ingin sukses.
“Wah, sepertinya rasa bahagia ibu sukses menghilangkan asma ya, bu. Memang beberapa teori menyebutkan emosi dapat mempengaruhi keadaan pasien asma.”
“Iya, mbak. Saya juga pernah baca artikel seperti itu. Sayangnya nggak ada orang jual inhaler bahagiain, yang ada cuma ventolin.”
Aku tertawa bersama si ibu. Sudah ku duga ibu ini cukup tahu dengan penyakitnya. Dari wawancara sebelumnya, beliau mengaku S1 dari fakultas ekonomi.
“Terus sekarang kok, kambuh lagi, bu?”
Perlahan wajah si ibu terlihat sedih, “Karena kebahagiaanya pergi separo, mbak.”
Aku agak bingung dengan kata-kata si ibu, “pergi kemana, bu?”
“Ke surga, mbak. Kebahagiaan saya ikut suami saya ke surga. Sekarang yang tersisa Cuma kangen aja. Anak sudah besar-besar semua, jadi tinggalnya misah-misah. Kangennya yang bikin saya nyesek. Nah, nyesek-nya itu yang sama dokter di sebut asma.”
Bagai tersiram air panas rasanya. Rasa terkejut dan bersalah menyerbuku. Ku pandang wajah si ibu dan benar saja, raut sedih dan masam yang terpampang disana.
“Maaf, bu. Saya nggak bermaksud...”
“Oh, nggak apa-apa, mbak. Saya sudah ikhlas. Namanya juga takdir. Setidaknya kami sudah sukses membesarkan anak-anak. Mudah-mudahan almarhum tenang.” Si ibu tampaknya memahami rasa bersalahku.
“Maaf, sekali lagi, bu. Beliau meninggal sudah lama?” aku dan segala rasa penasaranku tampaknya mengalahkan aku dan segala kesungkananku.
“Ya, kurang lebih 6 bulan, mbak. Almarhum kena serangan jantung. Setelah itulah asma saya jadi sering kambuh. Karena kangen mungkin ya, mbak?”
“Emmm...mungkin begitu, bu. Tapi kalau rajin berobat dan kontrol pasti bisa dikendalikan, bu.” gugup rasanya ditodong pertanyaan seperti ini.
“Iya, mbak. Lagian kangennya paling cuma sebentar,kan. Kapan saja kalau Tuhan mau, saya pasti akan menyusul suami saya. Tinggal tunggu waktu saja.”
Ya Tuhan, kagum aku pada si ibu. Beliau bicara tentang perpisahan, cinta, dan maut dengan demikian tenangnya. Senyum beliau tampaknya menunjukkan ketegaran dan kebijaksanaan. Beruntung almarhum suami beliau didampingi wanita yang tampaknya benar-benar mencintainya.
“Ibu, ini resepnya. Ini dibawa lagi buat dilegalisir di ASKES ya, bu.” suara mendayu bu Meta menghentikan percakapan kami.
“Oh, iya, bu. Terima kasih, ya.” ujar si ibu sambil menerima kertas-kertas resep dan jaminannya.
Aku langsung berdiri dan mengantar si ibu keluar. Ku jabat tanggannya, “Terima kasih banyak ya, bu.”
“Sama-sama mbak. Semoga sukses penelitiannya.”
Setelah menjabat tanganku, beliau pergi dengan senyum manisnya.
Sepeninggalan si ibu aku duduk di kursi tempatku biasa berjaga sambil membantu merapikan status pasien. Aku mulai merenungkan si ibu tadi dan pengalaman hidupnya. Bagaimana rasa kehilangan seseorang yang amat dicintai membuat beliau merasakan kembali sakit yang telah lama hilang.
Cinta, kenapa hal yang satu ini sungguh ajaib. Sesaat dia bisa membawa kebahagiaan dan menjadi penyembuh tapi sekejap ia membawa airmata dan sengsara. Aku mungkin masih terlalu muda dan lugu untuk memahaminya. Mungkin juga jika dianalisis dengan SPSS rasa kehilangan dan tingkat kontrol asma tidak berhubungan. Tapi aku percaya bahwa rasa cinta si ibu pada almarhum suaminya lah yang membuat beliau merasakan bahagia dan sakit.
Aku jadi teringat kutipan dari buku The Survivors Club karya Ben Sherwood. Kutipan itu berbunyi :
Kita tidak akan bertahan dalam:
3 detik tanpa harapan
3 menit tanpa udara
3 jam tanpa perlindungan dalam keadaan ekstrim
3 hari tanpa air
3 minggu tanpa makanan
3 bulan tanpa cinta dan teman
Sedemikian penting cinta hingga ia bisa mempengaruhi keberlangsungan hidup seorang anak adam. Aku memang belum pernah merasakan cinta pada pasangan seperti ibu itu. Bahkan aku sudah menjomblo lebih dari 20 tahun. Tapi aku tahu dengan pasti betapa beratnya berpisah dari orang yang kita cintai baik karena jarak, penghianatan, agama, dan sebagainya.
Tapi aku percaya bahwa saat kita kehilangan satu cinta, kita masih punya kesempatan untuk mencari sumber cinta lainnya. Si ibu yang kehilangan cinta suaminya masih memiliki cinta dari anak-anaknya dan keyakinan untuk berkumpul lagi dengan sang suami di surga. Aku yang selama ini menjomblo juga masih tetap bisa bertahan dengan cinta dari orang tua, saudara, dan teman-teman. Jika demikian, mengapa tidak kita coba untuk berbagi cinta pada anak yatim-piatu yang kehilangan cinta orang tuanya, pada para pengungsi yang kehilangan cinta akan kampung halamannya, pada fakir-miskin yang tak mendapatkan cinta dalam bentu sedekah dari si kaya, atau pada korban perang yang kehilangan banyak orang tercinta karena tewas akibat ledakan bom, baku tembak, dan serbuan rudal.
Ah, semakin dipikir, semakin luas dan complicated yang namanya cinta itu. Mungkin Tuhan belum menampakkan jodoh karena aku belum bisa memahaminya 100%, karena Tuhan menilai aku belum bisa menahan rasa sakit yang mungkin ditimbulkannya, atau karena Tuhan ingin aku konsentrasi belajar agar bisa berbagi cinta dan mengabdi dengan keilmuanku. Entahlah, yang pasti aku percaya bahwa Tuhan telah mengatur hidupku sedemikian rupa agar aku dapat mencintai dan dicintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar